Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Fatamorgana

Fatamorgana Begitu sulit kutemukan awal yang pasti untuk memulai segalanya, terkadang ingin kutepis kenyataan yang terlihat di depan mata, dan lebih memilih untuk menikmati bias-bias keindahan fatamorgana dunia. Apakah bias-bias keindahan itu bisa menjadi nyata, disaat hasrat dan nafsu berkuasa di atas tahta? Apakah rasa menjadi semu dan cita-cita menjadi buta, disaat cinta menyapa dan bergejolak didalam dada? Biarlah hati yang berkata dan menjawab semua, karena dunia bukan untuk selamanya, berjalanlah seperti seharusnya sampai saat kita mampu memaknai arti menjadi seorang hamba, arti menjadi seorang manusia, arti menjadi seorang anak, arti menjadi seorang sahabat, arti menjadi seorang kekasih. Denyudhiz2009

Dia

Dia Sesaat setelah memandangmu segalanya terasa begitu berbeda, entah apa yg kurasakan namun bayanganmu tak pernah lepas dari pikiranku, keanggunan gerakanmu dan halusnya suaramu selalu saja terlihat dan terdengar menawan, seolah kau diciptakan hanya untuk keindahan, dan semuanya begitu nyata tanpa harus membayangkan sesosok dewi dari surga. Seandainya saja aku bukan hanya seorang hamba, mungkin aku akan mencoba mengucapkan kata dan ungkapkan segala keindahan yg ada padamu itu, namun apa daya, meskipun larut dengan apa yg kurasa, aku tak bisa memaksakan betapa inginnya rasa, karena aku tak pernah kuasa atas segalanya.

Aku diantara hitam dan putih

Aku diantara hitam dan putih Mungkin yg kulihat hanya terangnya saja, karena dia datang disaat jiwaku sedang gelap. Mungkin yg kurasa hanya indahnya saja, karena dia datang disaat hatiku tengah tersesat. Malam adalah dia, siang adalah dia, Sepi adalah dia, ramaipun adalah dia. Terkadang enggan kulihat malam, berharap siang terus berjalan. Namun terkadang enggan kulihat siang, berharap malam terus berbintng. Mungkinkah rasa ini seperti air yg jatuh ke daun, hanya singgah tak berbekas, Atau seperti tulisan di atas pasir, yg hilang seketika saat tersapu ombak. Dinding itu, benteng itu, menyekat semua harapan, hingga rasa yg kian menggelegak terpenjara dalam ruang kehampaan.. Dan kini rasa ini seperti air mendidih, semakin bergolak namun justru menguap... pudar dan hilang... Pada akhirnya dia akan tetap ada namun hanya dalam ingatan..